Impor Nonmigas April 2022 Turun 10,01 Persen, Alarm atau Siklus Ekonomi?

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang April 2022 impor produk nonmigas yang menopang produksi di dalam negeri mengalami penurunan secara bulanan.

Maria Elena - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  12:18 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai impor pada April 2022 atau periode Ramadan mencapai US$19,76 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono menyampaikan impor pada April 2022 tersebut turun sebesar 10,01 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).

“Dari kompoisisinya, impor untuk migas masih meningkat 9,21 persen, sedangkan nonmigas turun 13,65 persen,” katanya dalam konferensi pers, Selasa (17/5/2022).

Namun demikian, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, impor pada April 2022 masih meningkat sebesar 21,97 persen (year-on-year/yoy), di mana impor migas tumbuh 88,49 persen dan nonmigas 12,47 persen secara tahunan.

Margo menjelaskan, jika dilihat berdasarkan pola tahun-tahun sebelumnya, penurunan impor biasanya terjadi pada periode April 2022 secara bulanan dan tumbuh melambat secara tahunan.

Penurunan impor nonmigas kata dia terutama disebabkan oleh penurunan impor mesin/peralatan mekanis dan bagiannya (HS 84) sebesar 17,68 persen mtm, serta penurunan impor besi dan baja (HS 72) sebesar 18,23 persen.

Berdasarkan penggunaan barang, kontraksi pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen, baik konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal.

Penurunan terdalam tercatat pada impor komponen barang modal, yaitu sebesar 19,34 persen, kemudian diikuti oleh impor bahan baku/penolong sebesar 8,68 persen, dan impor barang konsumsi yang turun 6,40 persen mtm.

Secara tahunan, ketiga komponen tersebut masih mencatatkan peningkatan impor, di mana impor bahan baku/penolong tumbuh 25,51 persen, barang modal 15,16 persen, dan barang konsumsi 4,21 persen yoy.

(Sumber: Bisnis.com)

Penyakit Mulut dan Kuku Muncul Lagi! Daging Impor Bulog Aman?

Perum Bulog menjelaskan daging impor yang didatangkan dari India soal penyakit mulut dan kuku yang muncul lagi di Indonesia.

Indra Gunawan - Bisnis.com 11 Mei 2022  |  08:42 WIB

Perum Bulog menjamin daging impor beku yang didatangkan dari India terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK). Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengatakan daging kerbau impor telah melewati proses pemeriksaan laboratorium dari pihak Kementerian Pertanian sebelum diedarkan dan dijual di Indonesia.

“Itu kita kan yang periksa oleh Kementan, bukan Bulog. Jadi diperiksa betul baru bisa diedarkan,” ujar Buwas dalam konferensi pers di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Selasa (10/5/2022).

Bulog juga bekerja sama dengan perusahaan ternama dari India yang memasok daging kerbau untuk kebutuhan dalam negeri. Bisa dipastikan daging yang diterima Bulog sudah melalui proses ketat.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menugaskan tim untuk mengecek kondisi lapangan sebagai upaya pemberantasan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Upaya ini dilakukan menyusul adanya hewan ternak yang terjangkit penyakit PMK di sejumlah daerah Jawa Timur.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya tengah melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat dan jenis serotype PMK yang teridentifikasi di sejumlah daerah di Jatim ini.

“PMK ini masih dalam penelitian lab veteriner kita di Surabaya secara maksimal, sehingga kita bisa identifikasi ini pada level berapa, jenisnya seperti apa, kita harap hari ini atau besok akan keluar hasilnya," katanya, dikutip Selasa (10/5/2022).

Dia menuturkan dengan hasil laboratorium tersebut, pemerintah akan lebih mudah menentukan vaksin yang tepat. Penentuan vaksin dapat memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam negeri sehingga memastikan penanggulangan PMK dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

(Sumber: Bisnis.com)

Ekspor & Impor RI Maret 2022 Tertinggi Sepanjang Sejarah RI

Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia

18 April 2022 12:11

Ekspor dan impor Indonesia menembus rekor pada Maret 2022, alias tertinggi sepanjang sejarah.

"Seperti ekspor, sama juga untuk impor tertinggi sepanjang sejarah RI," ungkap Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Senin (18/4/2022).

Ekspor Indonesia pada Maret 2022 mencapai US$ 26,50 miliar, tumbuh 44,36% secara (year on year/yoy). Komoditas utama yang mendorong ekspor tersebut adalah sektor pertambangan.

"Sektor pertambangan mencapai US$ 5,40 miliar, tumbuh 50,18% mtm dan secara yoy sebesar 143,91%," ungkap

Secara lebih rinci, barang dengan ekspor tertinggi secara bulanan adalah biji besi dan lignit dan secara tahunan adalah lignit dan biji logam.

Margo menambahkan, sektor minyak dan gas bumi menyumbang ekspor sebanyak US$ 1,41 miliar dengan pertumbuhan 41,24% mtm dan 54,75% yoy.

Ekspor dari sektor industri pengolahan US$ 19,26 miliar dan pertanian kehutanan dan perikanan sebanyak US$ 430 juta.

Sementara itu nilai impor Indonesia bulan lalu adalah US$ 21,97 miliar. Tumbuh 32,02% dibandingkan Februari 2022 (month-to-month/mtm) dan 30,85% dibandingkan Maret 2021 (year-on-year/yoy).

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus US$ 4,53 miliar. Indonesia sudah membukukan surplus neraca perdagangan sejak April 2020, atau selama 23 bulan terakhir. Ini baru kali pertama terjadi di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

(Sumber : Cnbcindonesia.com)

Shanghai Lockdown, Sejauh Apa Pengaruhnya ke Indonesia?

Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia

30 March 2022 12:05

Kota Shanghai, China kini dikunci alias lockdown akibat lonjakan kasus covid-19. Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?

Dampak pertama yang ditimbulkan adalah perdagangan ekspor impor. Shanghai merupakan salah satu pusat bisnis di China, di mana Indonesia sering mengimpor produk dari kota tersebut.

"Dampak langsung sepertinya akan menghambat mata rantai pasokan untuk barang barang export berbasis manufaktur, dan sedikit banyak juga berdampak pada inflasi. Ini apabila lockdown tersebut sifatnya berkepanjangan, tetapi saat ini diperkirakan kurang dari 2 minggu full city testing bisa rampung," ujar Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja kepada CNBC Indonesia, Rabu (30/3/2022).

Enrico mengkhawatirkan penguncian juga dilakukan oleh kota-kota lainnya. "Apabila lockdown merambah ke kota lainnya maka medium term implications adalah menurunnya permintaan Tiongkok terhadap ekspor komoditas Indonesia," terangnya.

Hal yang senada diungkapkan oleh Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF kepada CNBC Indonesia. Tauhid meyakini penurunan yang terjadi tidak begitu signifikan. China memiliki banyak pelabuhan besar yang bisa dimanfaatkan untuk aktivitas perdagangan.

Hal yang sama pernah terjadi ketika China mengunci beberapa kota seperti Wuhan. Meski demikian diharapkan lockdown hanya berlangsung sementara sehingga tidak muncul masalah yang lebih besar.

Di sisi lain berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia cukup gencar mengimpor bahan baku dan penolong dalam beberapa waktu terakhir. Sehingga sekalipun pasokan dari China terganggu saat ini.

VP Industry and Regional Research Bank Mandiri, Dendi Ramdani memandang, ekspor Indonesia masih cukup positif ke depannya. Seiring dengan tetap tingginya harga komoditas internasional yang menjadi andalan Indonesia.

"Tahun ini masih akan relatif baik, walaupun terkoreksi harga komoditas itu masih tinggi," ujarnya.

(Sumber : Cnbcindonesia.com)

IMPOR HRC ALLOY CHINA : Indonesia Terapkan Bea Masuk Antidumping

Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com
15 Maret 2022 - 02:00 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memutuskan untuk mengenakan bea masuk antidumping atau BMAD terhadap impor produk Hot Rolled Coil of Other Alloy (HRC Alloy) asal China yang termasuk dalam pos tarif ex.7225.30.90. Kebijakan BMAD itu berlaku efektif Selasa (15/3) untuk lima tahun ke depan.

Keputusan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15/PMK.010/2022 tentang Pengenaan Bea Masuk Anti-Dumping Terhadap Impor Produk HRC Alloy dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang ditetapkan pada 22 Februari 2022.

“Bahwa sesuai dengan hasil penyelidikan Komite Anti-Dumping Indonesia, telah terbukti terjadi dumping atas impor produk HRC Alloy yang berasal dari RRT, sehingga menyebabkan kerugian bagi industri dalam negeri, serta ditemukan hubungan kausal antara dumping dan kerugian yang dialami industri dalam negeri,” tulis Sri dalam PMK itu, dikutip Senin (14/3).

Adapun BMAD itu dikenakan pada barang impor dengan spesifikasi memiliki kandungan Boron (B) 0,0008% sampai dengan 0,003%, atau memiliki kandungan Boron (B) 0,0008% sampai dengan 0,003% dan Titanium (Ti) lebih kecil atau sama dengan 0,025%.

Adapun eksportir atau eksportir produsen produk yang dikenakan BMAD sebesar 26,9% di antaranya adalah Rizhao Steel Holding Group Co., Ltd., Rizhao Steel Wire Co., Ltd. dan Baohua Steel International Pte. Limited (Singapura).

Selanjutnya, Zhangjiagang Hongchang Steel Co., Ltd., Jiangsu Shagang International Trade Co., Ltd., Xinsha International Pte. Ltd. (Singapura), dan Shagang International (Singapura) Pte.Ltd. dengan besaran BMAD mencapai 39,1%.

Di sisi lain, BMAD 25,1% dikenakan kepada Shougang Jingtang United Iron & Steel Co., Ltd., Shougang Qian’an Iron & Steel Company, dan Shougang Holding Trade (Hong Kong) Limited. Sementara itu, BMAD 12,1% dikenakan kepada Bengang Steel Plates Co., Ltd., Benxi Iron and Steel (Group)  International Economic and Trading Co., Ltd., dan Benxi Iron and Steel Hong Kong Limited.

Selain itu, Shanghai Meishan Iron and Steel Co.,Ltd. dan Baosteel Singapore Pte. Ltd. dikenakan BMAD sebesar 4,2%. Adapun, Shanxi Taigang Stainless Steel Co., Ltd. dikenakan BMAD mencapai 8,6%, sedangkan sementara perusahaan lainnya dibebankan BMAD mencapai 50,2%.

“Pengenaan BMAD sebagaimana dimaksud merupakan tambahan atas bea masuk umum [most Favoured Nation] yang telah dikenakan atau tambahan atas bea masuk preferensi berdasarkan skema perjanjian atau kesepakatan internasional yang berlaku yang telah dikenakan.”

Kendati demikian, pemasukan atau pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Perdagangan Bebas serta Pelabuhan Bebas, Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemasukan dan atau pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Tempat Penimbunan Berikat atau Kawasan Ekonomi Khusus.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Komite Anti-Dumping Indonesia (KADI) Donna Gultom mengakui melonjaknya volume impor besi dan baja (HS 72) sepanjang 2021 disebabkan oleh belum jelasnya arah kebijakan pemerintah terkait dengan produk dumping yang masuk ke Tanah Air.

Alasannya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah menyampaikan keputusan untuk memperpanjang pengenaan BMAD produk cold rolled coil/sheet (CRC/S), HRC hingga HRC paduan dari sejumlah negara eksportir, termasuk China kepada Kementerian Keuangan sejak 2016.

Hanya saja, keputusan perpanjangan pe­ngenaan BMAD atas impor produk dumping dari Jepang, Korea Selatan, China, Malaysia, Taiwan hingga Viet­­­nam tidak kunjung diputuskan.

(Sumber : Bisnis.com)

Peneliti: Indonesia perlu pertimbangkan relaksasi impor pangan

Senin, 14 Maret 2022 11:32 WIB

Lembaga peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebutkan pemerintah perlu mempertimbangkan untuk merelaksasi impor pangan sebagai bentuk antisipasi terhadap kelangkaan dan kenaikan harga komoditas tersebut akibat faktor internal dan eksternal.

“Sejauh ini inflasi Indonesia masih cukup terkendali. Produk-produk pangan yang selama ini memang dikontrol perdagangannya bisa direlaksasi kuotanya jika memang inflasi mulai menekan. Kebetulan selama ini harga pangan di Indonesia memang sudah lebih mahal daripada pasar dunia akibat pembatasan impor,” kata Associate Researcher CIPS Krisna Gupta dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.

Krisna mengatakan relaksasi impor bisa digunakan untuk menjaga kestabilan harga. Saat ini, kata dia, kenaikan harga beras masih lebih terkendali dibandingkan gandum, jagung ataupun kedelai.

Sejumlah harga komoditas pangan internasional terdampak konflik Rusia dan Ukraina, namun Indonesia memiliki hubungan dagang yang cukup jauh dengan kedua negara tersebut. Hal itu bisa dilihat dari nilai total impor kedua negara hanya berkontribusi pada sekitar satu persen dari total impor Indonesia. Sementara itu, jumlah investasi Rusia maupun Ukraina ke Indonesia juga tidak signifikan.

Meski demikian, kata Krisna, keduanya merupakan sumber utama barang impor untuk Indonesia. Ukraina memasok sekitar 24 persen dari total impor gandum Indonesia pada 2020. Sementara itu, pupuk impor asal Rusia menyumbang sekitar 15 persen dari total pupuk impor Indonesia.

Kedua negara tersebut juga banyak membeli produk minyak nabati (kelapa sawit) Indonesia, meski jumlah transaksinya hanya sekitar 0,5 persen dari total ekspor sawit Indonesia pada 2020.

Walaupun jumlah impor gandum dari Ukraina tidak terlalu besar, menurut dia, Indonesia tetap perlu mencari sumber pemasok gandum lain untuk menghindari dampak kelangkaan jikalau perang terus berlanjut. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari kelangkaan dan kenaikan harga pada bahan pangan yang bersumber dari gandum.

Gandum sebagian besar digunakan untuk penggilingan tepung terigu, yang tidak hanya dipakai oleh konsumen, tapi juga produsen mi instan, pasta, roti, hingga kue-kue dan jajanan pasar. Padahal, tanpa perang pun harga gandum dunia sedang naik karena permasalahan produksi akibat masalah cuaca.

Dia mengatakan bahwa Indonesia perlu mewaspadai kenaikan harga komoditas pangan selain gandum. Terganggunya pasokan pupuk dunia berpotensi menaikkan harga pupuk yang sudah mahal karena harga gas dan larangan ekspor pupuk oleh China. Kekurangan pasokan pupuk dapat menyebabkan harga-harga komoditas, misalnya saja jagung dan kedelai, semakin tinggi.

Menurut Krisna, ketersediaan pasokan pupuk juga tidak kalah penting karena pupuk digunakan oleh semua tanaman. Harga gas Indonesia juga terus naik seiring meningkatnya kebutuhan pabrik-pabrik smelter yang mulai beroperasi.

Krisna mengatakan bahwa relaksasi dapat dilakukan dengan membuka kuota impor. Beberapa komoditas pangan dikenakan kuota impor demi menjaga nilai tukar petani dan juga menjaga volatilitas harga. Ketika suplai domestik dirasa cukup, maka keran impor akan ditutup. Namun ketika harga mulai dirasa terlalu tinggi, maka keran impor dibuka.

“Akan tetapi, jika harga pangan dunia naik terlalu tinggi melebihi harga domestik, maka meskipun kuota impor dibuka sebebas-bebasnya, maka harga tidak akan turun. Jadi, jika harga domestik naik, kita tinggal buka keran impor. Selama harga internasional selalu lebih rendah daripada harga domestik, maka cara ini akan bisa mengendalikan inflasi,” jelasnya.

(Sumber : Antaranews.com)

RI Menuju Endemi, Angin Segar Buat Ekonomi?

Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia

08 March 2022 11:10

Pemerintah memutuskan untuk melonggarkan mobilitas di tanah air. Seperti naik pesawat dan transportasi lainnya yang tidak memerlukan hasil negatif PCR/antigen namun sudah vaksin hingga dosis ke-2.

Artinya, pemerintah bersiap menuju endemi. Dimana salah satu syarat endemi adalah mencapai target vaksinasi dosis kedua untuk minimal jumlah masyarakat.

Ekonom CORE Pitter Abdullah melihat bahwa pelonggaran ini angin segar bagi perekonomian dalam negeri. Sebab, aktivitas ekonomi akan mulai terjadi dan melanjutkan pemulihannya.

"Ini angin segar, memberi harapan yang lebih besar bahwa perekonomian akan kembali pulih," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (8/3/2022).

Menurutnya, kebijakan yang diambil oleh pemerintah ini sudah pasti mempertimbangkan banyak hal dan secara matang. Sehingga ia percaya bahwa ini adalah keputusan yang tepat di tengah melandainya kasus harian.

"Pemerintah melonggarkan mobilitas dengan menghapuskan ketentuan PCR antigen dan lain-lain didasarkan pertimbangan pandemi yang sudah mereda. Kasus harian sudah semakin turun dan jumlah yang di rumah sakit juga sangat rendah. Itu sebabnya pemerintah berani melonggarkan mobilitas," jelasnya.

Lanjut Piter, jika pelonggaran ini terus dilakukan dan kasus Covid-19 makin landai maka tidak menutup kemungkinan perekonomian bisa melebihi target yang ditetapkan.

"Dengan meredanya pandemi dan dilonggarkan mobilitas, target (perekonomian) pemerintah lebih mungkin untuk dicapai," pungkasnya.

(Sumber : Cnbcindonesia.com)

Kemendag Optimistis Kinerja Ekspor-Impor Stabil Berkat LCS

Kemendag optimistis kinerja ekspor impor stabil karena implementasi local currency settlement (LCS) kendati ada potensi penguatan kurs dolar AS.

Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 17 Februari 2022  |  14:35 WIB


Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengatakan kinerja ekspor dan impor dalam negeri relatif stabil di tengah potensi penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat sepanjang 2022.

Kasan menerangkan implementasi perjanjian transaksi lewat mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) Indonesia bersama dengan China, Jepang, Malaysia dan Thailand turut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat tahun ini. Kasan mengatakan volume dan nilai transaksi LCS sepanjang 2021 mengalami peningkatan yang signifikan sejak digulirkan pada 2018.


“LCS antara Bank Indonesia [BI] dengan Bank Central RRT untuk transaksi bilateral termasuk ekspor dan impor menunjukkan keyakinan BI atas stabilitas nilai tukar rupiah ke depan dan ketergantungan terhadap US$ tidak lagi terlalu dikhawatirkan,” kata Kasan, Rabu (16/2/2022).

Selain itu, kata Kasan, posisi cadangan devisa di atas US$137 miliar bakal menambah keyakinan bagi eksportir dan importir untuk menghadapi dampak dari penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat menyusul kebijakan tapering off dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed akhir tahun lalu.


“Saya kira kinerja ekspor dan impor kita cukup resilience menghadapi risiko dampak dari Kebijakan The Fed tersebut,” kata dia.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Hariyadi B. Sukamdani mengatakan pemanfaatan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) untruk transaksi bilateral mengalami peningkatan yang pesat sepanjang 2021. Menurut Hariyadi, peningkatan itu disebabkan karena volume dan nilai transaksi dagang Indonesia dengan China terbilang besar pada tahun lalu.

“Dengan China ini naik luar biasa karena smelter sudah jalan produk nilai tambahnya sudah besar di sana sehingga defisit tahun lalu itu hanya US$2,4 miliar dari sebelumnya besar sekali mencapai US$30-an miliar,” kata Hariyadi dalam diskusi Finance Track Side Events G20, Rabu (16/2/2022).


Adapun pemanfaatan LCS menunjukkan perkembangan yang signifikan sejalan dengan perluasan dan penguatan kerjasama transaksi mata uang lokal tersebut setiap tahunnya. Total transaksi LCS mencapai setara US$2,53 miliar pada 2021. Torehan itu mengalami peningkatan dari posisi setara US$797 juta pada 2020.

Perkembangan transaksi LCS itu didorong oleh kontribusi signifikan transaksi antara Indonesia-Jepang dengan nilai setara US$95 juta dan Indonesia-China mencapai US$128 juta pada tahun lalu.

(Sumber : Bisnis.com)

Rangkuman Data Seputar Produksi & Impor Garam Indonesia

Indonesia merupakan negara maritim dan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Akan tetapi, cukup ironis bahwa kebutuhan garam di dalam negeri banyak dipenuhi dari impor. Simak data dan visualisasinya di sini.

Setyardi Widodo - Bisnis.com 17 Februari 2022  |  06:33 WIB

Indonesia merupakan negara maritim dan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Akan tetapi, cukup ironis bahwa kebutuhan garam di dalam negeri banyak dipenuhi dari impor. Simak data dan visualisasi selengkapnya di sini.

Indonesia memiliki wilayah perairan yang jauh lebih luas dibandingkan daratannya. Atas dasar itu, tak heran jika Indonesia mampu menjadi salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia.

Indonesia berada di urutan ketiga negara dengan garis pantai terpanjang. Indonesia tercatat memiliki garis pantai yang membentang sepanjang 54.716 kilometer (km). Posisi Indonesia hanya berada di bawah Kanada dan Norwegia dengan garis pantai masing-masing sepanjang 202.080 km dan 44.087 km. Dengan garis pantai yang besar tersebut, Indonesia dipandang punya lahan potensial yang besar untuk tambak garam.

Kenyataannya, Indonesia masih mengimpor garam setiap tahunnya. Data seputar impor garam itu dirangkum DataIndonesia.id dalam tautan berikut ini. Data yang dirangkum antara lain mencakup negara dengan garis pantai terpanjang, impor garam indonesia 2010-2020, kebutuhan garam Indonesia 2016-2020, produksi garam Indonesia, klasifikasi garam dalam negeri, dan sebagainya. Data dan visualisasi selengkapnya dapat disimak di sini.

Rata-rata impor garam setiap tahun bahkan mencapai 2,36 juta ton sejak 2010-2020. Pada 2010, Indonesia tercatat mengimpor garam sebanyak 2,08 juta ton.

Impor garam kemudian naik 36,54% menjadi 2,84 juta ton setahun berikutnya. Impor garam sempat menurun pada 2012 dan 2013, tapi kembali meningkat menjadi sebanyak 2,22 juta ton pada 2014. Setahun setelahnya, impor garam berkurang jadi 1,86 juta ton.

Angkanya kemudian merangkak naik lagi hingga mencapai 2,84 juta ton pada 2018. Impor garam tercatat menurun 8,45% menjadi 2,6 juta ton pada 2019. Sedangkan, impor garam naik 0,38% menjadi 2,61 juta ton pada 2020. Terlepas dengan julukan negara maritim serta garis pantai yang panjang, Indonesia masih melakukan impor garam dengan jumlah yang cukup besar.

Indonesia rata-rata mengimpor garam sebesar 2,36 juta ton tiap tahunnya. Pada awalnya, impor garam telah dilakukan sebesar 2,08 juta ton pada 2010. Tahun berikutnya, impor garam naik tajam yaitu 36,54% menjadi 2,84 juta ton. Data dan visualisasi selengkapnya di sini. 

Impor garam pun mengalami penurunan pada 2012 yang menjadi 2,22 juta ton. Penurunan masih berlanjut hingga 2013 yang sebesar 1,92 juta ton. Impor garam kemudian naik pada 2014 menjadi 2,27 juta ton, namun kembali menurun tahun berikutnya menjadi 1,86 juta ton. Selanjutnya, impor garam merangkak naik tiap tahunnya hingga 2018 yang mencapai puncaknya yaitu sebesar 2,84 juta ton. Impor garam kemudian turun 8,45% menjadi 2,6 juta ton pada 2019. Pada tahun selanjutnya, impor garam naik 0,38% menjadi 2,61 juta ton.

Lebih lanjut, pemerintah telah menyepakati alokasi impor garam industri sebanyak 3,07 juta ton. Alokasi itu untuk empat sektor usaha, yakni khlor alkali, aneka pangan, farmasi dan kosmetik, serta pengeboran minyak.

(Sumber : Bisnis.com)

Bak Buah Simalakama, Impor Baja Meresahkan Tapi Dibutuhkan

Derasnya impor baja meresahkan bagi pelaku industri di dalam negeri. Sebaliknya, tidak semua produksi baja di dalam negeri bisa memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan ragam industri.

Reni Lestari - Bisnis.com 14 Februari 2022  |  15:25 WIB


Derasnya arus impor baja ke pasar dalam negeri dikeluhkan produsen sebagai pangkal rendahnya utilitas produksi industri. Namun, harus diakui bahwa industri baja dalam negeri belum sepenuhnya mandiri, sehingga pasokan impor untuk produk hulu atau bahan baku, masih tetap diperlukan.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan dengan sumber daya mineral yang dimiliki, Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk mengembangkan sektor hulu industri baja.

Namun, penguatan struktur industri di hulu tersebut tidak segera dapat teralisasi karena tingginya investasi yang diperlukan. Akibatnya, persoalan impor menjadi dilematis. "Ini dilema. Dari dulu saya ngomong kalau kita kuat di penghuluan [kebutuhan impor tidak akan besar]. China itu impor dari Australia Fe-nya. Kalau itu penuh di dalam negeri, kita tutup saja impornya, tapi dampaknya pabriknya akan tutup," kata Taufiek saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (14/2/2022).

Kemenperin mencatat rata-rata utilitas produksi industri logam dasar pada tahun lalu berada di angka 67 persen, naik signifikan dari 2020 sekitar 30 persen. Dengan utilitas yang belum maksimal, Taufiek memperkirakan industri masih membutuhkan kenaikan bahan impor sebesar 50 persen. Akan tetapi, pertumbuhannya dapat ditekan hingga 27 persen pada tahun lalu.

Impor baja dengan kode HS 72 sepanjang 2021 terpantau sebesar 4,73 juta ton untuk flat product atau naik 27 persen. Sedangkan untuk long product, volume impornya mencapai 5,80 juta ton atau naik 22 persen.

Sementara itu di industri hilir, Taufiek juga mengatakan ada 200 industri baja yang memproduksi aneka produk baja dengan berbagai kebutuhan. Sebagian kebutuhan industri terkait sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri. Namun, kebutuhan baja untuk otomotif atau yang disebut engineering steel, belum dapat diproduksi secara domestik. "Secara teknokratik kami ukur supply-demand. Kalau tidak dikasih impor, dia [industri] bisa mati. Oleh karena itu kami sangat hati-hati untuk menghitung supply-demand," jelasnya.

(Sumber : Bisnis.com)