10 Jun
Jaga Produksi Beras saat Pandemi, Kinerja Kementan Tuai Apresiasi

Petai Halmahera melaukan panen menggunakan alat mesin pertanian. Foto: dok/Balitbangtan Kementan

JAKARTA - Kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) di tengah pandemi Covid-19 pada kuartal pertama 2020, yaitu Januari sampai Maret, dinilai sudah bagus. Hal ini merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa produksi Januari-Mei 2020, yaitu 15,1 juta ton beras dan surplus stok beras pada akhir Mei sebesar 8,48 juta ton.

Pengamat Pertanian Prima Gandhi mengatakan, Kementan sejauh ini mampu menunjukkan kinerja yang prima. Namun, Gandhi menyatakan Kementan tidak mendapat dukungan oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan. Sementara itu, saat ini, tantangan terbesar bagi negara-negara dunia adalah mempertahankan produktivitas pangannya di tengah pandemi Covid-19.


"Menurut saya kinerja Kementan sudah bagus. Saat panen itu masih sampai target dan masih baik. Tetapi ada beberapa kebijakan yang kurang. Maksud saya yang harus disinkronisasi dengan Kementrian Perdagangan karena kita tahu kemarin pada waktu awal-awal Covid, dengan Kementerian Perdagangan itu ada sedikit ketidakcocokan harga pangan dan juga masalah impor," kata Gandhi kepada wartawan saat dihubungi, Selasa 9 Juni 2020.


Gandhi meminta Kementerian Perdagangan mampu menjaga harga pangan di pasaran. Sebab, apabila harga pangan mahal di pasar, sedangkan harga beli di petani murah, hal itu akan memberikan dampak pada periode selanjutnya. Dia juga mendorong Kementerian Keuangan memberikan bantuan berupa subsidi pupuk kepada petani agar mampu menjaga produksi berasnya.

"Yang rawan-rawannya masalah pangan beras ini di Agustus sampai Desember. Karena kenapa? Kami lihat sekarang pasokan benih, pasokan pupuk, inikan agak terganggu, karena selama ini untuk padi selalu disubsidi oleh negara. Ini kan dana subsidi pertanian lari ke kesehatan, ya, itu yang agak kami khawatirkan sekrang," jelas dia


Dosen Departemen Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan di Institut Pertanian Bogor ini melihat Kementerian Keuangan sudah menyunat anggaran subsidi bibit dan pupuk kepada petani. Selain itu, anggaran di Kementerian Pertanian pun juga banyak dipotong. Dua kebijakan ini, menurut dia, bisa menurunkan kinerja Kementan di hulu.

"Padahalkan pada saat Covid ini, kami harus siap dengan globalisasi pangan. Negara lain yang punya pangan enggak mau kirim ke kita, kita enggak bisa impor," jelas dia.

Dia juga mengapresiasi kinerja Kementan yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekspor sejumlah komoditas pangan. Sebab, sejauh ini, hanya dua lembaga negara yang mampu tumbuh positif di tengah pandemi, yaitu Telkom dan Kementan. Untuk ekspor Januari-April 2020, sejumlah komoditas pertanian masih berjalan 12,6 persen.

"Bagus, tahun ini naik. Tetapi saya ingatkan dan pastikan ke pemerintah untuk memberikan subsidi pupuk dan bibit," kata Gandhi.

(ysw)
(Sumber : sindonews.com)