19 May
Bawang Putih Impor dari Tiongkok Jamin Kebutuhan di Indonesia hingga Pasca Lebaran
- 18 Mei 2020, 09:36 WIB

ILUSTRASI. Operasi Pasar Bawang Putih di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin, 17 Februari 2020.* /ADE BAYU INDRA/PR

PIKIRAN RAKYAT - Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo) menyatakan, ketersediaan bawang putih hingga pasca lebaran akan tetap terjamin.

Total bawang putih konsumsi yang sudah terkirim dari Tiongkok ke Indonesia sejak awal Maret sampai 16 Mei 2020 mencapai 91.000 ton.

"Jumlah ini masih akan terus bertambah hingga tanggal 31 Mei, sehingga ketersediaan bawang putih hingga pasca Lebaran pun tetap terjamin.

Syukur Alhamdulilah harga bawang putih saat ini sudah turun jauh dibanding harga pada bulan-bulan lalu," kata Ketua Pusbarindo Valentino dalam siaran pers di Jakarta, Senin 18 Mei 2020.

Di masa pandemi Covid-19 yang serba sulit ini, menurut Valenrino, pihaknya berusaha membantu pemerintah untuk menjaga harga dan pasokan bawang putih.

"Sesuai komitmen kami sekuat tenaga menjaga stabilitas harga dan pasokan bawang putih," ujarnya.

"Pusbarindo tidak bosan-bosannya mengimbau para importir yang sudah peroleh RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) untuk segera realisasi importase bawang putih.

Hal tersebut demi memenuhi pasokan bawang putih yang sempat kosong pada bulan Februari sampai dengan awal April lalu demi menjaga ketersediaan dan kestabilan harga agar tidak memberatkan rakyat menjelang hari Raya Idul Fitri 1441 H."

Bawang putih yang sempat langka dan mengakibatkan harga melonjak tinggi dalam 2 bulan terakhir, menjadi perhatian Presiden Joko Widodo yang langsung menginstruksikan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan untuk melakukan langkah-langkah taktis menjaga ketersediaan bawang putih dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.

"Akhirnya Kementerian Pertanian menerbitkan RIPH bawang putih, Kementerian Perdagangan melakukan relaksasi Impor bawang putih dan kami para importir yang tergabung dalam Pusbarindo melaksanakan importase kemudian langsung mendistribusikannya kepada para distributor di seluruh Indonesia," katanya.

Velentino sekali lagi menyampaikan hal-hal penting terkait dengan tata niaga bawang putih. Pasalnya, seperti diketahui semua, dari tahun ke tahun, peristiwa gejolak harga bawang putih selalu terjadi seperti ini, khususnya pada setiap awal tahun.

Pertanyaannya, mengapa jika bawang putih termasuk produk-produk pangan lain yang berkaitan dengan izin impor, ketika harganya naik, maka perlu waktu lama untuk menurunkan dan menstabilkan harganya. Mengapa demikian ?

Berikut catatan Pusbarindo: 

1. Sebagai salah satu komoditas impor, kelancaran supply untuk memenuhi permintaan, menjadi sangat penting untuk dijaga oleh semua pihak karena ketika pasokan berkurang maka harga cepat naik.

Akibat masalah penerbitan rekomendasi dari Kementerian Pertanian dan izin dari Kementerian Perdagangan, timming menjadi hal penting untuk menjaga kestabilan supply.

2. Negara kita adalah negara kepulauan. Untuk mendistribusikan logistik hingga ke seluruh wilayah di Indonesia dalam waktu singkat tidaklah mudah karena bergantung pada transportasi kapal laut.

Pada saat mencapai pelabuhanpun masih perlu diteruskan dengan tranportasi darat hingga ke kota-kota di Kabupaten, Kecamatan pada masing-masing pulau.

Dalam masa pandemi Covid-19 ini, jangka waktu pendistribusian semakin lama karena adanya pembatasan orang-orang yang berpergian dengan transportasi umum seperti kapal laut.

3. Perlu waktu untuk menghabiskan stok dengan pembelian harga lama ditingkat pengecer (retailer).

4. Situasi pandemi Covid-19 mempengaruhi kecepatan delivery bawang putih oleh para eksportir bawang putih dari China ke Indonesia, jelas menjadi lebih lama.

Masalah lain yang saat ini harus dicarikan solusinya adalah kesulitan para petani bawang putih, khususnya di Temanggung, dalam memasarkan hasil panen yang diperuntukan sebagai benih bawang putih lokal.

"Walaupun dengan adanya relaksasi sesuai Permendag No. 27/2020, seluruh importir dapat melakukan importase bawang putih tanpa SPI (Surat Peraetujuan Impor),

kami sangat berharap agar Kementerian Pertanian tegas menegakkan aturan sesuai Permentan No. 39 yaitu pelaksanaan Wajib Tanam bagi seluruh importir yang telah melakukan importase selama masa relaksasi sampai dengan tanggal 31 Mei 2020."

"Sehingga ada kepastian bagi para petani bawang putih untuk tetap melakukan budidaya dan penangkaran benih bawang putih untuk musim tanam bulan Oktober/November dan musim tanam selanjutnya," paparnya.***

(Sumber : Pikiranrakyat.com)