26 Mar
EKSPOR HORTIKULTURA : Ketika Salak Bali Menjelajah Kamboja

k23 Senin, 25/03/2019 02:00 WIB


Kesempatan ini ia peroleh setelah 6 tahun bertani salak. Pengiriman ini sekaligus menjadi kali pertama bagi Bali mengekspor salak dan menambah komoditas ekspor baru.

Waktu persiapan Wayan dalam memproduksi salak untuk diekspor pun terbilang singkat yakni hanya tiga bulan saja. Usai dihubungi secara pribadi oleh eksportir PT Sarena Sejahtera untuk mempersiapkan setengah ton salak gula pasir untuk ekspor ke Kamboja, ia segera memfokuskan 1 hektare lahan salak sebagai komoditas ekspor.

Setelah dipilah dengan baik oleh PT Sarena Sejahtera, satu hektar pertanian tersebut mampu menghasilkan setengah ton salak gula pasir siap ekspor. “Ini memang tahap promo, untung rugi tidak saya pikirkan,” katanya sembari meyakinkan bahwa salaknya akan laku di pasaran.

Wayan memang berupaya keras agar salak produksinya dapat diterima pasar luar negeri. Jika biasanya tidak ada perlakukan istimewa pada pohon salak, kini Wayan merawatnya dengan telaten. Tidak ada bahan kimia yang digunakan untuk perawatan. Semuanya dilakukan secara organik.

Bahkan, ketika pohon mulai berbunga, perawatan ekstra langsung dilakukan agar salak yang dihasilkan memiliki ukuran sama besar. Selepas berbuah dan dipanen, salak pun langsung dicuci bersih untuk dikirim ke packing house.

Jika biasanya satu kilogram salak terdiri dari 20 buah. Dengan perlakuan khusus untuk menghasilkan ukuran lebih besar, satu kilogram menjadi terdiri dari 16 buah.

Menurutnya, perlakukan istimewa ini memang harus diberikan untuk setiap salak yang akan dia ekspor. Apalagi, keuntungan yang dia dapat akan lebih besar dari berjualan di pasar lokal.

Setidaknya, harga jual salak di petani pada pasar lokal mencapai Rp13.000 per kilogram. Ketika menembus pasar ekspor, dia pun mengharapkan harga meningkat paling tidak menjadi Rp20.000 per kilogram. Adapun, eksportir akan menjual sekitar Rp42.000 per kilogram.

“Memang ini lebih rumit, tetapi dari hasil sudah seimbang, kita bekerja berat hasilnya bagus,” katanya.

Nantinya, jika salak produksi Wayan diterima, maka kuantitas pengiriman akan ditingkatkan. Belum lagi, di Pupuan, Tabanan, tempat pertaniannya, ada sekitar 100 hektar lahan salak yang dimiliki warga dan siap menerima produksi untuk diekspor.

Eksportir Salak yakni Direktur PT Sarena Sejahtera Mulianta mengatakan pangsa pasar baru akan terus dicari menyusul kesuksesan pengiriman komoditas tersebut ke Kamboja. Ada Vietnam dan China yang menjadi sasaran ekspor selanjutnya.

Dia pun optimistis salak gula bali akan diterima pasar luar negeri karena memiliki rasa yang lebih manis dan renyah dibanding jenis produk lain. Kamboja menjadi pintu pertama bagi Bali untuk mengekspor salak. “Permasalahan kita masih pada komitmen petani,” katanya.

Kepala Karantina Pertanian Denpasar I Putu Terunanegara optimistis salak gula pasir menjadi komoditas ekspor selanjutnya yang digemari pasar luar negeri. Ekspor perdana memang baru dilakukan dengan mengirimkan setengah ton salak gula pasir ke Kamboja pada Maret 2019. Setelahnya, salak gula pasir akan secara rutin diekspor sebanyak 50-100 ton per bulan.

Selain Kamboja, negara tujuan lain yang rencananya disasar yakni Vietnam dan China. Bali berharap besar pasar China akan menerima produk salak gula pasir ini. Sebab, kuantitas permintaan akan lebih meningkat.

Apabila dibandingkan dengan Kamboja persyaratan ekspor China lebih rumit, mulai dari buah harus bebas kutu dan semut. Sementara, ekspor ke Kamboja hanya perlu dilengkapi dengan registrasi kebun dan packing house.

“Tapi kita tetap lakukan secara bersih tetapi tidak ketat karena tidak ada persyaratan ,” katanya.

Sebelumnya, Bali berhasil mengekspor manggis ke China setelah lima tahun tidak melakukan pengriman karena adanya pelarangan dari negara tersebut. Pada 2018, Bali ahirnya berhasil mengirim 4.096 ton manggis dengan nilai ekonomi Rp300 miliar hanya ke China dan sekaligus menjadi nilai ekspor manggis tertinggi di Indonesia. Sementara itu, memasuki tiga bulan pertama 2019 ,ekspor manggis bahkan sudah mencapai 631 ton tujuan Cina dengan nilai devisa hingga Rp45 miliar.

“Kini bertambah lagi komoditas andalan petani di bali, dan petani sebagai penggeraknya telah menjadi pahlawan devisi negara,” katanya.

Kepala Balai Besar Karantina Soekarno Hatta Imam Djajadi mengharapkan dengan bertambahnya komoditas ekspor ini akan meningkatkan surplus neraca dagang Indonesia pada 2019. Adapun selama 2013 hingga 2017 ekspor komoditas pertanian secara nasional telah mengalami surplus senilai US$11,5 miliar.

“Sinergi yang dibangun telah membuahkan hasil, dan kita akan terus tingkatkan dengan mendorong produk komoditas pertanian unggulan asal Bali masuk ke pasar ekspor,” katanya.

Gubernur Provinsi Bali I Wayan Koster mengatakan produk pertanian Pulau Dewata memang memiliki keunggulan dibanding daerah lain seperti misalnya manggis, jeruk, maupun salak. Namun, hingga saat ini petani maupun distributor belum mendapatkan pembinaan secara serius mengenai produk tersebut.

Walaupun petani telah dibina, namun banyak juga produk yang tidak mampu didistribusikan dengan baik ke pasar. Hal tersebut menjadikan petani merugi karena produk yang dijual kerap dengan harga murah.

“Dibagian hulu sudah ada usaha tetapi di hilir betul-betul gak ada fokus dan komitmen untuk menyelesaikan masalah pertanian,” katanya.

Koster mengakui selama ini produk Bali masih kalah unggul dibanding komoditas ekspor Thailand. Sejumlah cara akan diterapkan mulai dari mengadakan pasar tematik yang menjual produk pertanian lokal hingga membangun industri olahan.

“Bali mewah untuk wisatawan tetapi tidak untuk pertanian, artinya tidak terintegrasi,” katanya. (k23)

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

 

(Sumber : Bisnis.com)