• Sat, 19 January 2019
11 Jan
Perangi Impor, BI Bali Kembangkan Pertanian Bawang Putih

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali berupaya mengatasi tingginya impor bawang putih dengan melakukan proyek percontohan komoditas tersebut pada lahan seluas 2 hektar are di Desa Wanagiri, Buleleng.


Ni Putu Eka Wiratmini | 09 Januari 2019 15:31 WIB


Bawang putih impor - Antara


Bisnis.com, DENPASAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali berupaya mengatasi tingginya impor bawang putih dengan melakukan proyek percontohan komoditas tersebut pada lahan seluas 2 hektar are di Desa Wanagiri, Buleleng.


Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Causa Iman Karana mengatakan dari proyek tersebut, produktivitas bawang putih yang dihasilkan telah mencapai 7,48 ton per hektar are.


Dia pun optimistis keberhasilan ini mampu mengatasi tingginya impor bawang putih yang presentasenya telah mencapai 95% dari kebutuhan sebanyak 400.000 ton secara nasional.


“Ironisnya, dahulu wilayah Buleleng dikenal sebagai salah satu sentra pengembangan bawang putih di Bali. Kini kelompok tani di sana kita bina untuk mengawali upaya pengembangan swasembada bawang putih,” katanya, Rabu (9/1/2019).


Selain bawang putih, cabai juga menjadi komoditas yang ikut didorong pengembangannya. Adapun pengembangan produk cabai dilakukan di Desa Ababi, Karangasem sejak 2017 lalu.


Kata dia, sebelum Bank Indonesia terjun untuk pengembangan komoditas cabai, harganya sempat melonjak drastis dan persisten sebagai penyumbang besar inflasi di Bali selama beberapa bulan.


Tercatat harga cabai sempat mencapai Rp110.000 per kilogram dari normalnya yang hanya berkisar Rp15.000 sampai dengan Rp20.000 per kilogram.


“Saat itu kondisi curah hujan yang sangat tinggi menjadi pemicu rendahnya produktivitas lahan cabai yang ada. Kini kelompok Merta Buana yang kami bina telah berhasil memanen cabai di luar musim tanam,” katanya.


Bank Indonesia juga melakukan pembinaan terhadap pertanian kakao di Jembrana. Pengembangan budidaya kakao yang dilaksanakan di Jembrana ini didasarkan pada identifikasi komoditas unggulan yang mendorong pertumbuhan dengan mengenalkan konsep local economic development (LED).


Menurutnya, kakao di Jembrana merupakan salah satu kakao terbaik dunia selain dari Pantai Gading dan Ghana. Bahkan, diakui oleh LSM pemerhati kakao dunia, Cocoa of Excellence.


“Komoditas kakao hasil budidaya Koperasi Kerta Semaya Samaniya ini juga telah berhasil menembus pasar ekspor hingga ke Perancis (Valrhona) dan Jepang,” katanya. 


Editor : Rustam Agus

(Sumber : Bisnis.com)