• Sat, 19 January 2019
08 Jan
REVISI KETENTUAN IMPOR : Pelaku Industri Baja Kian Pede

Senin, 07/01/2019



ilustrasi


JAKARTA—Pelaku industri baja optimistis kinerja tahun ini akan membaik seiring dengan terbitnya revisi Peraturan Menteri Perdagangan No.22/2018 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan, dan Produk Turunannya .


Permendag yang mulai berlaku pada 1 Februari 2018 tersebut menyebabkan kenaikan impor baja karena terdapat perubahan beberapa ketentuan atau mekanisme yang telah berlaku selama ini.


Perubahan tersebut di antaranya terkait dengan pemberlakuan post border audit atau inspection dan penghapusan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian.

Revisi yang tertuang dalam Permendag 110/2018 tersebut, mengembalikan beberapa poin yang sebelumnya dihilangkan dalam Permendag 22/2018.


Misalnya, pasal 5 ayat 1 yang mengembalikan syarat pertimbangan teknis dari Menteri Perindustrian. Kemudian pasal 12 yang menyebutkan verifikasi dilakukan di pelabuhan muat atau pelabuhan logistik berikat (PLB) dari sebelumnya dilakukan setelah melalui Kawasan Pabean.


Aturan baru ini mulai berlaku 30 hari sejak tanggal diundangkan pada 20 Desember 2018. Pada saat Permendag 110/2018 mulai berlaku, Permendag Nomor 82/2016 sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendag 22/2018 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.


Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Silmy Karim mengatakan masalah yang dihadapi industri baja dalam negeri adalah bagaimana berkompetisi dengan produk impor yang mendapatkan rebate dari negara asal.


Selain itu, produk impor tersebut masuk dengan pelarian HS number sehingga mendapatkan bea masuk 0%—5% dari yang seharusnya sebesar 15%—20%. “Proyeksi industri baja 2019, pasca Permendag 110 pastinya lebih bagus,” ujarnya seusai Public Expose di Jakarta, Jumat (4/1/2019).


Menurut data Kementerian Perdagangan, total defisit neraca perdagangan baja mencapai US$30,2 miliar selama 5 tahun terakhir. Silmy menyatakan pelaku industri telah berkomunikasi kepada pengambil kebijakan terkait permasalahan yang dihadapi.


Menurutnya, pemerintah merespon dengan baik masukan dari industri, apalagi Presiden Joko Widodo juga ingin menurunkan defisit necara perdagangan. Pada tahun ini, emiten dengan kode saham KRAS tersebut memasang target penjualan sebesar 2,8 juta ton dari target 2,4 juta ton pada tahun lalu.


Sementara itu, Purwono Widodo, Ketua Cluster Flat Product Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (the Indonesian Iron & Steel Industry Association/IISIA) berpendapat niat pemerintah untuk mengurangi impor menjadi harapan bagi industri baja nasional.

“Ini optimisme bagi kami dan industri baja, hasilnya akan kelihatan pada 2019. Ini sangat positif,” katanya.


Saat ini, lanjutnya, rasio impor baja terhadap produk dalam negeri mencapai 50%. Semestinya, untuk negara yang memiliki produsen baja dalam negeri, rasio impor maksimal sebesar 30%, sehingga kondisi di Tanah Air sudah tidak normal.


Adapun, sebelumnya, Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian, mengatakan pengaturan tata niaga untuk komoditas besi dan baja yang dilakukan pemerintah melalui revisi Permendag 22/2018 disebabkan oleh kasus khusus, yaitu baja karbon impor yang dilarikan menjadi alloy steel dengan penambahan boron.


Sejatinya, impor baja karbon yang digunakan untuk konstruksi dikenakan bea masuk sekitar 10%—15%. Dengan penambahan lapisan materi lain, seperti boron dan chrome, yang sangat tipis, maka baja karbon tersebut berubah menjadi alloy steel sehingga mendapatkan bea masuk yang rendah sebesar 0%--5%.

"Oleh karena itu, kami lakukan pencegahan, salah satunya lewat PLB supaya bisa dimonitor. Kemarin kan di post border, sekarang ke PLB," katanya.


Pemerintah saat ini sedang mengembangkan beberapa klaster industri baja untuk meningkatkan produksi nasional, seperti di Cilegon, Banten yang ditargetkan bisa memproduksi hingga 10 juta ton baja pada 2025.

Selain itu, Kemenperin mempercepat pembangunan klaster industri baja di Batulicin, Kalimantan Selatan dan Morowali, Sulawesi Tengah. (Annisa S. Rini)

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

 

(Sumber : Bisnis.com)