• Wed, 27 March 2019
08 Jan
INDUSTRI KIMIA, FARMASI, TEKSTIL : Investasi Rp149,7 Triliun Siap Masuk

Senin, 07/01/2019




JAKARTA – Kementerian Perindustrian optimis dapat merealisasikan target investasi pada sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil yang dipatok senilai Rp149,7 triliun tahun ini.


Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan bahwa target tersebut tercantum pada rencana strategis (Renstra) Kemenperin tahun ini.


Dia memproyeksikan investasi siap masuk senilai Rp130 triliun pada 2019 yang berasal dari dua industri petrokimia, yakni Lotte Chemical Indonesia dan Chandra Asri Petrochemical.


"Nilai investasi keduanya mencapai US$8,9 miliar, atau sekitar Rp130 triliun sesuai asumsi kurs Rp14.500," katanya kepada Bisnis.

Sigit menambahkan Kementerian Perindustrian hanya tinggal mencari tambahan senilai Rp19,7 triliun untuk merealisasikan target yang ada.


Dia optimistis hal tersebut dapat terealisasi mengingat sejumlah investor sudah memulai investasi di sektor hulu pada 2018. Pembangunan yang tengah berlangsung menurutnya membuat investor akan melakukan pengeluaran pada 2019 dan akan tercatat oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

“Pada tahun politik ini, sejumlah investor jangka panjang masih tetap jalan. Kami berharap investasi itu turut mendongkrak pertumbuhan industri nasional,” ujar Sigit.


Sektor industri kimia diproyeksikan mencatatka nilai investasi terbesar karena membutuhkan teknologi tinggi dan tergolong padat modal. Sigit pun menjelaskan industri tersebut berperan strategis sebagai sektor hulu yang menopang kebutuhan bahan baku industri lain.

Pada sektor tersebut, terdapat beberapa investor yang tertarik untuk melakukan ekspansi di industri hulu, di antaranya adalah investor dari Korea Selatan yang saat ini masih dalam tahap pembicaraan.


Selain itu, sektor kimia pun akan terdorong masuknya investasi sebesar US$3,5 miliar digelontorkan PT Lotte Chemical Indonesia untuk pembangunan industri petrokimia di Cilegon, Banten. Pabrik tersebut memproduksi naphtha cracker hingga 2 juta ton per tahun.

Investasi lain di sektor tersebut disuntikkan PT Chandra Asri Petrochemical senilai US$5,4 miliar yang juga untuk memproduksi naphtha cracker. Pabrik Chandra Asri tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 2,5 juta ton per tahun.


“Tahun depan lebih baik, salah satunya karena ada investasi besar di hulu petrokimia. Sudah groundbreaking, tanah sudah terbeli, minimal konstruksi sudah dimulai atau sepertiga investasi sudah masuk. Nanti 2020, alat-alatnya datang sudah US$2 miliar,” ujar Sigit.

Dia menjelaskan pemerintah bertekad mempercepat pembangunan kompleks petrokimia di Cilegon, Banten. Beroperasinya kompleks tersebut diproyeksikan dapat menekan impor produk petrokimia hingga 50%.


"Kami juga berharap agar proyek ini lebih mengutamakan penggunaan komponen lokal dan melibatkan tenaga kerja dari dalam negeri," kata Sigit.

Dia pun optimistis industri farmasi dapat mencatatkan pertumbuhan 7%–10% pada 2019. Hal tersebut dipicu peningkatan investasi dan catatan kinerja positif yang terkatrol dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


"Program itu masih menjadi magnet bagi investor untuk menanamkan modalnya, karena meningkatkan demand," tuturnya.

Adapun pada sektor industri tekstil, Sigit menjelaskan terdapat investor asal Korea Selatan yang berminat untuk membangun industri di Indonesia. Selain itu terdapat pula investor asal China yang hendak menanamkan investasi Rp10 triliun.


ATUR REGULASI


Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menilai target pemerintah untuk menarik investasi masuk di sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) pada 2019 dapat tercapai apabila regulasi tidak menekan industri.

Wakil Ketua Inaplas Suhat Miyarso mengatakan bahwa iklim usaha yang kondusif bagi industri merupakan kunci tercapainya target tersebut.


Industri petrokimia saat ini, katanya, tengah terhambat oleh kebijakan yang menekan penggunaan plastik, salah satu produk hilir utama dari industri tersebut. Kondisi itu menurut Suhat dapat membuat investor menahan aliran investasinya.


Selain itu, saat ini pun, menurut Suhat, terdapat banyak proyek yang hendak dijalankan industri petrokimia. Menurutnya pemerintah, melalui iklim usaha yang kondusif, harus mampu mendorong realisasi proyek-proyek tersebut agar investasi mengalir pada tahun ini.

"Sebetulnya kan sudah ada sebagian , nafta cracker, Asahimas akan meningkatkan kapasitas . Cuma bisa direalisasikan atau tidak. Jadi bagaimana pemerintah bisa mendorong pengusaha supaya tahun ini proyek-proyek yang sudah jalan ini bisa direalisasikan," ujar Suhat.


Salah satu kendala realisasi proyek tersebut menurutnya adalah penerapan Online Single Submission (OSS). Menurutnya banyak proyek yang terlambat karena terkendala izin melalui OSS.

Suhat yang juga menjabat sebagai Vice President Corporate Relations PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, menjelaskan banyak proyek perusahaannya yang terhambatpenerapan OSS. Dia pun mendapatkan keluhan serupa dari industri-industri lain.


"Sebetulnya bagus ke depannya kalau sudah jalan. Kami minta supaya masa transisinya jangan terlalu lama. Juga banyak pemda tidak mau masuk ke OSS, dari pusat harus tapi Pemda enggak mau," tambahnya.

Meskipun begitu, dia optimistis target pemerintah dapat tercapai asalkan semua permasalahan dapat dibenahi. Menurutnya, saat ini pemerintah memiliki kesempatan besar untuk menarik investasi di tengah banyaknya proyek petrokimia.


"Katakan semua sudah di depan pintu, tinggal merealisasikan saja. Kalau di pintu terus kan tidak akan jadi," ujar Suhat.

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

(Sumber : Bisnis.com)