• Wed, 27 March 2019
21 Dec
PROYEKSI KEMENPERIN: Investasi Manufaktur Menguat Tahun Depan

Annisa S. Rini Kamis, 20/12/2018 02:00 WIB

JAKARTA — Kementerian Perindustrian meyakini realisasi investasi di sektor industri pengolahan nonmigas atau manufaktur akan membaik pada 2019 setelah mengalami penurunan sejak tahun lalu.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi industri manufaktur pada 2015 mencapai Rp236 triliun dan kemudian meningkat menjadi Rp335,8 triliun pada tahun berikutnya.

Setelah mengalami kenaikan, realisasi investasi menurun menjadi Rp274,8 triliun pada 2017 dan diperkirakan mencapai Rp226,18 triliun pada akhir 2018. (Lihat grafis)

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah telah merilis aturan terkait dengan tax holiday yang mencakup lebih banyak sektor industri, yaitu PMK 150/2018 tentang Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan.

“Selain itu, kepastian untuk mendapatkan insentif tersebut juga lebih jelas dengan adanya online single submission ,” ujarnya, Rabu (19/12).

Kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dengan China juga dinilai sebagai faktor yang memberi kesempatan Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi dan AS juga akan mengalihkan permintaan barang dari China ke negara lain.

“Apalagi di Vietnam dan China sudah ada permasalahan yang timbul, seperti di Vietnam awalnya pajak bumi dan bangunan digratiskan, kemudian dinaikkan di tengah jalan. Ini peluang bagi Indonesia,” katanya.

Optimisme kenaikan realisasi investasi pada 2019 juga ditopang oleh beberapa proyek besar yang telah berada di pipeline, seperti pembangunan kawasan petrokimia terintegrasi milik Lotte Chemical Indonesia yang telah dimulai pada pekan lalu serta perluasan fasilitas milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. dengan total investasi keduanya mencapai US$9 miliar.

Di sektor otomotif, investor asal Korea Selatan, yaitu Hyundai, dan investor asal Jerman Volkswagen juga berminat untuk masuk ke Indonesia. Sementara itu, di industri tekstil, beberapa pabrik asal China berencana untuk merelokasi pabriknya akibat perang dagang.

“Ada juga salah satu perusahaan yang sedang melihat Batam untuk produksi smartphone. Jadi, track-nya sudah kelihatan,” kata Airlangga.

Oleh karena itu, pemerintah akan menyambut para investor dengan mempersiapkan infrastruktur, pembukaan kawasan industri baru, serta pelatihan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan industri.

“Itu menjadi pekerjaan rumah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tambahan investasi,” ujarnya.

Adapun, lima besar sektor manufaktur yang menyumbang realisasi investasi terbesar yaitu industri barang logam, komputer, barang elektronika, mesin dan perlengkapan senilai Rp58,2 triliun, industri makanan dan minuman senilai Rp56,2 triliun, industri kimia senilai Rp48,69 triliun, industri alat angkutan senilai Rp17,44 triliun, serta industri tekstil dan pakaian jadi senilai Rp8,75 triliun.

KEBUT EKSPOR

Di sisi lain, Kemenperin juga akan memacu sektor-sektor yang memiliki kapasitas lebih untuk meningkatkan ekspor industri manufaktur. Salah satu sektor yang memiliki kapasitas lebih adalah industri otomotif.

Saat ini, sebesar 80% perdagangan mobil dunia dikuasai oleh jenis sedan. Namun, produksi dalam negeri kebanyakan berupa SUV dan MPV, sehingga apabila ingin menggenjot ekspor mobil, produksi sedan harus dipacu.

“Untuk itu, pemerintah sedang membahas perubahan PPnBM untuk kendaraan sedan. Pasarnya terbuka, seperti Australia yang membutuhkan 1,3 juta kendaraan dan bisa dimasuki oleh industri Indonesia,” paparnya.

Berdasarkan data Kemenperin, pada Januari-Oktober 2018, industri otomotif di Indonesia mengekspor kendaraan roda dua dengan total nilai sebesar US$1,3 miliar dan senilai US$4,7 miliar untuk kendaraan roda empat.

Potensi ekspor lainnya juga ditunjukkan oleh industri pakaian, tekstil, dan alas kaki. Menurut Airlangga, industri tekstil dalam negeri menyatakan siap menaikkan ekspor dua kali hingga tiga kali lipat dengan syarat perjanjian perdagangan dengan Eropa dan Amerika Serikat segera dirampungkan.

Airlangga juga menyebutkan industri semen juga akan digenjot untuk meningkatkan ekspornya karena kapasitas terpasang saat ini sebesar 110 juta ton, sedangkan kebutuhan domestik sekitar 70 juta ton per tahunnya.

“Industri makanan dan minuman juga bisa ditingkatkan ekspornya. Namun demikian, memang perlu diperhatikan kombinasi pasar domestik dan ekspor supaya volumenya meningkat,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor industri pengolahan nonmigas menunjukkan tren kenaikan sejak 2015, yaitu senilai US$108,60 miliar menjadi US$110,50 miliar pada tahun selanjutnya.

Pada 2017, ekspor kembali meningkat menjadi US$125,10 miliar dan pada tahun ini diproyeksikan tumbuh 4,51% menjadi US$130,74 miliar. Saat ini, ekspor produk industri pengolahan nonmigas memberikan kontribusi sebesar 72,28% dari total nilai ekspor.

Editor: Maftuh Ihsan

 

Sumber: Bisnis.com